Headlines News :
Home » , , » Pandai Besi Madura di Tepi Zaman

Pandai Besi Madura di Tepi Zaman

Written By Madurapress Musthofa on Selasa, 12 Februari 2013 | 22.02

Gubuk bambu itu sudah reyot tak terurus, sebagian atap gentingnya hancur, tiang-tiang penyangga hampir habis dimakan rayap. Bekas abu pembakaran berserakan memenuhi ruangan.

Di depan gubuk ada kursi tinggi dengan dua buah lesung bambu berdiri, dipenuhi sarang laba-laba. Begitulah kondisi salah satu tempat pembuatan celurit tradisional Madura, biasa disebut Pandian, milik keluarga Dehri di Desa Senenan Akkor, Kecamatan Palengngaan, Kabupaten Pamekasan, Madura. "Sejak kakak meninggal, pandian (pembuatan celurit tradisional Madura) ini tidak ada yang merawat" kata Dehri.

Dua puluh tahun lalu, sekitar tahun 90 an, pembuatan celurit tradisional Madura di Desanya masih banyak dan merupakan ladang rejeki bagi sebagian warga Senenan Akkor. Termasuk keluarga Dehri. Tapi kini, pembuatan celurit tradisional di Madura satu persatu tumbang, seiring pesatnya perkembangan zaman. "Punya saya ini masih bisa dibilang bagus, karena ada pandian yang sudah rata dengan tanah" kata Dehri.

Menurut Dehri, perkembangan zaman yang pesat dan serba cepat, dimana celurit juga bisa dibuat ratusan buah dalam sehari oleh pabrik adalah salah satu penyebab utama terus berkurangnya jumlah pandai besi di Madura. Sementara, pembuatan celurit dengan cara tradisional bisa memakan waktu berhari-hari untuk satu buah celurit.

Padahal, dari segi kwalitas, celurit buatan pandai besi lebih bagus dan lebih awet ketimbang hasil pabrikan. Tidak hanya kalah dalam efesiensi waktu, Dehri mengatakan, celurit tradisional juga kalan dalam hal pemasaran. "Kalau kita menunggu pesanan, baru dikerjakan" ujarnya.

Berbagai cara telah dilakukan keluarga Dehri, untuk bertahan dan melestarikan pembuatan celurit tradisional. Dulu, di jaman kakek Dehri, pandian miliknya hanya memfokuskan diri pada pembuatan celurit saja. Tapi, ketika diambil alih Almarhum ayah dan kakaknya, Pandian keluarga Dehri menerima pembuatan segala jenis senjata tajam. Mulai dari celurit, linggis, pisau dapur, kapak hingga mata cangkul. "Tapi tetap saja gak bertahan, pesanan tetap sepi" katanya.

Kurang lebih setahun lalu, kakak Dehri meninggal dunia. Tempat Pandian itu otomatis jadi tanggung jawabnya untuk meneruskan tradisi membuat celurit dengan cara tradisional. Tapi, kondisi bukannya membaik, pesanan dari masyarakat justru berhenti total. "Karena gak ada pesanan, saya bertani saja," kata Dehri sambil menyungging senyum.

Terus berkurangnya jumlah pandai besi di Madura, terutama di Desa Senenan, diangguki Gazali salah seorang tokoh masyarakat. Dia mengatakan, pandian di desanya tidak sama dengan pandian di desa lain di Madura. Bila pandai besi di desa lain bisa memproduksi bahkan memasarkan senjata tajam hasil buatannya ke pasaran. Maka, pandian di Desa Senenan sangat bergantung pada pesanan dari masyarakat utamanya petani. "Dulu biasanya pesanan akan banyak, kalau musim panen tiba" jelasnya. "Petani butuh senjata tajam baru untuk memanen tanamannya"

Pendapat berbeda disampaikan Didin, ia Mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di Pamekasan dan tinggal di Desa Senenan Akkor. Dia menilai, selain karena perkembangan zaman, terus berkurangnya jumlah pandian di Desa Senenan karena kebanyakan pandai besi tidak memiliki generasi penerus. Kalau pun ada, keahliannya tidak leluhur mereka. "Disini banyak warga yang memilih merantau ketimbang jadi pandai besi" katanya.

Di hati kecilnya, Didin masih melihat peluang melestarikan kebudayaan Madura ini yaitu dengan melibatkan peran pemerintah daerah agar menjadikan desa-desa di Madura yang punya kultur sebagai pandai besi, sebagai daerah tujuan wisata. “Celurit adalah warisan budaya Madura” katanya.

Sementara, menurut Asik, seorang pengoleksi celurit, di Kabupaten Sumenep punya cerita lain soal nasib pandian di Madura. Lelaki berusia 50 tahun ini mengatakan, keberadaan pandian saat ini tak ubahnya barang langka karena jumlahnya terus berkurang.

Setahu Asik, di Desa Telaga, Sumenep, hanya ada satu pandai besi yang masih bertahan. Itu pun karena pandian itu hanya membuat celurit dan keris berkwalitas tinggi yang hanya digunakan untuk sekep (celurit khusus carok). “Kalau kwalitas celurit atau keris jelek, pasti sepi pesanan” katanya sambil memperlihatkan celuritnya yang berukuran besar. “kalau hanya ingin punya sade’ (celurit buat bertani) dipasar banyak”.
M. USTHOF ABI SRI
Share this article :

Poskan Komentar

 
Copyright © 2014. Madurapress.com - All Rights Reserved